Allahtidak melihat rupa dan harta, melainkan melihat hati dan amal. Penilaian Allah tertuju pada hal-hal yang lebih dalam dari sekadar yang tampak dari tubuh dan yang terkesan mewah di mata kebanyakan manusia. Sering sekali seseorang menilai orang lain dengan sisi luarnya saja seperti dari wajahnya, dan kemewahan serta kemegahan hartanya.
Salahsatunya adalah yang baru saja diunggahnya. Pada inti 10 ilustrasi yang diunggah, Jokowi menekankan kalau jangan sembarang menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja. Berikut ini deretan ilustrasi keren yang diunggah Jokowi, seperti dari akun @jokowi pada Minggu (19/1). 1.
OlehSaudari Rubylen, Filipina Sejak kecil, orang tuaku mengajariku untuk ramah kepada orang, menjadi orang yang mudah didekati dan berempati. Jika orang di sekitarku punya masalah atau kekurangan, aku tak bisa langsung menyingkapnya, dan harus memikirkan martabat mereka. Karena didikan ini, aku tak pernah punya konflik atau perselisihan, orang di sekitarku pikir aku orang baik
hehehehejangan melihat dari luarnya saja wahai Landak, tapi kau harus mengenalku lebih dalam untuk mengetahui sikapku. Tidak baik langsung begitu saja menilaiku, ucap Bunglon sembari memegang duri Landak. Tidak semuanya hanya beberapa orang saja, itupun orang yang memang mengerti adat istiadat suku sawang. Ritual dibuka dengan nyanyian
Janganlahmenilai seseorang dari luarnya saja By Devina mutia azzahra Mei 15, 2017 Add Comment Sebuah kapal karam diterjang badai hebat. Hanya dua lelaki yang dapat menyelamatkan diri dan berenang ke pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan kecuali berdoa.
Agartak mengenal Malang hanya dari sejuk dan apelnya, berikut ini rangkuman 10 tempat wisata di Malang yang sayang sekali jika dilewatkan: 1. Jatim Park 3. Apabila kamu akan berencana ke Jatim Park 2, jangan lupa untuk datang juga ke Jatim Park terbaru, yaitu Jatim Park 3.
. Nasehat Dhuha Kamis, 5 Agustus 2021 26 Dzulhijjah 1442 H Oleh Sularto Klikbmi, Tangerang โ Tema kita kali ini adalah jangan menilai orang dari luarnya saja atau donโt judge a book by its cover. Selama hidup, Nabi Muhammad SAW banyak mengajarkan kepada semua sahabat dan ummatnya untuk selalu tidak menilai orang dari penampilan luarnya saja. Salah seorang sahabatnya, Al Aqra bin Habis pernah mendapatkan pelajaran tentang khumul, yaitu penampilann yang tidak menonjolkan diri. Kisah ini terdapat dalam Kitab Syarah Hikam yang berjudul Iqadzul Himam fi Syarhil Hikam karangan Al Imam Ibnu Ajibah Al Hasani yang diambil dari kutipan hadits. Kala itu, Rasulullah SAW sedang duduk bersama Aqra. Tiba-tiba lewatlah seorang anak lelaki muslim yang miskin. Nabi berniat untuk menguji Aqra. Dia bertanya terkait pendapat Aqra terhadap orang tersebut. Lalu Aqra menjawab, โWahai Rasulullah, menurut saya orang itu miskin dan melarat. Jika dia berbicara tidak ada yang mendengarnya. Jika dia melamar perempuan, tidak ada yang menerima dan jika dia istiโdzan meminta sesuatu kepada seseorang, pasti tidak mendapatkan apa yang dia mintaโ. Mendengar jawaban Aqra, Nabi terdiam. Beberapa waktu kemudian, ada lagi seseorang yang lebih baik penampilannya lewat di hadapan Rasulullah dan Aqra. Kemudian, Nabi menanyakan lagi pendapat tentang orang tersebut. Aqra menjawab orang itu jika berbicara semua orang akan mendengarkan. Jika dia melamar perempuan diterima, dan jika istiโdzan akan dikabulkan. Setelah mendengar dua jawaban dari Aqra, Nabi memberikan komentar. Orang yang disebut dia melarat atau miskin, adalah orang yang sangat luar biasa kebaikannya di sisi Allah. Jika orang itu bersumpah atas nama Allah, Allah akan mengabulkan sumpahnya. โIbnu Ajibah juga mengomentari, ternyata kita tidak bisa menilai orang dari penampilannya. Artinya dari cerita itu, agar kita tidak mudah memberikan penilaian kepada seseorang hanya dari penampilannya. Sebaiknya kita tanamkan selalu husnudzon kepada orang lain. Jika sudah kita suudzon, bisa menyebabkan kekeliruan yang nantinya akan membuat penyesalan. Kita sudah berdosa jika bersuudzon. Generasi muda harus memahami, orang bisa berpenampilan apa saja. Pelajaran pentingnya adalah jangan mudah tergoda oleh penampilan. Dalam kehidupan di zaman ini sering kita melihat orang-orang yang mulia di sisi Allah tapi dipandang sebelah mata oleh manusia, sebaliknya orang yang mulia di sisi manusia ternyata sangat hina di sisi Allah. Maka jangan menilai orang cuma dari dari penampilan fisiknya. Karena kemualiaan manusia ada pada ketaqwaannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ุฅูููู ุงูููููู ูุงู ููููุธูุฑู ุฅูููู ุตูููุฑูููู
ู ููุฃูู
ูููุงููููู
ู ูููููููู ููููุธูุฑู ุฅูููู ูููููุจูููู
ู ููุฃูุนูู
ูุงููููู
ู โSungguh Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah melihat pada hati dan amalan kalian.โ HR. Muslim nomor 2564. Hadits ini mengajarkan kepada kita bawa Allah tidak sekedar melihat penampilan dan rupa seseorang tapi lebih kepada hati dan amalannya, taqwa dan imannya, niat dan keikhlasannya. Para ulama Salaf terdahulu tidak tertipu dengan pandangan penampilan seseorang tapi mereka memuliakan seseorang karena keimanan dan ketaqwaannya. Dari Al Fasawi Yaโqub bin Sufyan Wafat th 277 H ia berkata telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, ia berkata dari Jarir bin Utsman ia berkata dari Abul Hasan Imran bin Nimran bahwa Abu Ubaidah pernah berjalan di tengah sebuah pasukan lalu berkata ุฃูููุง ุฑูุจูู ู
ูุจููููุถู ููุซูููุงุจููู ู
ูุฏููููุณู ููุฏููููููู ุฃููููุง ุฑูุจูู ู
ูููุฑูู
ู ููููููุณููู ูููููู ููููุง ู
ููููููู ุจูุงุฏูุฑููุง ุงูุณูููููุฆูุงุชู ุงูููุฏูููู
ูุงุชู ุจูุงูุญูุณูููุงุชู ุงูุญูุฏูููุซูุงุชู โKetahuilah bahwa boleh jadi orang membersihkan bajunya malah mengotori agamanya. Bisa jadi orang yang merasa memuliakan dirinya padahal hakikatnya ia menghinakan dirinya sendiri. Bersegeralah menganti kejelekan-kejelakan masa lalu dengan dengan kebaikan-kebaikan yang baruโ Siyar Aโlam an Nubalaโ 1/18 Ungkapan ini menunjukkan kecerdasan Abu Ubaidah radhiyallahu anhu yang melihat banyaknya orang yang kelihatan mulia padahal ia sedang menghinakan dirinya. Orang yang Allah muliakan adalah orang yang diberikan taufik untuk beramal kebaikan, sebab kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya dan kejelekan hanya akan dicatat sebagai satu perbuatan dosa. Sehingga orang yang binasa adalah orang yang kejelekannya lebih berat dari kebaikannya. Tidak ada seorangpun diantara kita kecuali pasti akan sering melakukan kesalahan dan dosa. Namun yang jadi masalah adalah apakah kita akan bersegera menghapus dosa kita itu dengan kebaikan atau kita akan menumpuk kejelekan dan dosa dan tidak segera menghapusnya. Allah taโala berfirman, ุฅูููู ุงููุญูุณูููุงุชู ููุฐูููุจููู ุงูุณูููููุฆูุงุชู ุฐููููู ุฐูููุฑูู ูููุฐููุงููุฑูููู โSesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghilangkan kejelekan-kejelekan dosa. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.โ QS. Hud 114 Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ููุฃูุชูุจูุนู ุงูุณูููููุฆูุฉู ุงููุญูุณูููุฉู ุชูู
ูุญูููุง โDan ikutilah perbuatan kejelekan dengan kebaikan, maka kebaikan tadi akan menghapuskan kejelekanโ HR. Tirmidzi nomor 1987 Termasuk dari taufiq Allah kepada hambaNya adalah bersegeranya seorang hamba melakukan kebaikan pada saat ia terjerumus dalam dosa dan keburukan. Mari kita usahakan jangan menilai orang lain dari penampilannya. Kita harus melihat seseorang dari budi pekerti yang baik yang dilakukannya, karena itulah cerminan dari iman dan takwanya. Wallahu aโlam bish-showaab. Mari terus ber-ZISWAF Zakat,Infaq,Sedekah dan Wakaf melalui rekening ZISWAF Kopsyah BMI 7 2003 2017 1 BNI Syariah a/n Benteng Mikro Indonesia atau menggunakan Simpanan Sukarela 000020112016 atau bisa juga melalui DO IT BMI 0000000888. Sularto/Klikbmi.
Ilustrasi foto via Ketika memilih teman jangan hanya melihat covernya saja, kenali betul bagaimana sikap perilakunya, karena dengan demikian kamu akan bisa berhati-hati dalam mempercayainya, sebab terkadang yang dilihatnya baik dari luar itu tidak setulus hatinya. Karena tidak sedikit kita temui seorang yang sangat baik dihadapan kita, namun dibelakang kita dia membicarakan kita habis-habisan. Kecewa? itu pasti, tapi mau bagaimana lagi tidak ada yang bisa menebak bagaimana hati seseorang. Jangan Hanya Melihat Luarnya Saja, Tapi Kenalilah Hatinya Ilustrasi foto via Jangan sampai kamu percaya kepada seseorang hanya karena kamu melihat keadaan luarnya baik, karena tidak sedikit orang yang luarnya baik, tapi hatinya sangat buruk. Jadi, kenalilah hatinya saat kamu berteman dengan seseorang atau hendak memulai pertemanan, agar nanti kamu tidak merasa kecewa dan tersakiti karena ulahnya yang tidak kita duga sebelumnya. Teman Adalah Cerminan Diri Kita, Maka Pastikan Kita Tidak Pernah Sembarangan Berteman Ketahuilah bahwa teman itu adalah cerminan diri kita, jika teman kita memiliki kebiasaan baik maka secara tidak langsung kita pun akan menjadi lebih baik karena kebiasaan-kebiasaannya. Begitu juga sebaliknya, jika teman kita buruk, sebaik apapun kita tentu pada akhirnya akan terkontaminasi akan menjadi sepertinya, meski tidak secara langsung tapi secara perlahan kebiasaan buruknya akan berdampak kepada kita. Jangan Sampai Kita Salah Melangkah Karena Salah Berteman Jika kita salah dalam memulai pertemanan, maka kita akan salah melangkah menuju jalan yang hanya akan merugikan kita dihadapan Tuhan. Oleh karena itu penting sekali kita tahu bagaimana karakter seseorang yang akan kita ajak berteman, bukan untuk pilih-pilih teman, tapi alangkah lebih baiknya kita berhati-hati, sebab teman banyak sekali pengaruhnya kepada kehidupan kita. Namun Jangan Sering Berburuk Sangka Pula Kepada Orang Lain, Jangan Apa-apa Kita Anggap Buruk Sebab Tidak Sama Dengan Pikiran Kita Akan tetapi jangan sampai hati dan pikiran kita buruk hanya karena keadaan luar dia yang tidak sesuai dengan persepsi kita. Karena tidak sedikit dari kita yang lumayan egois memprediksikan orang lain buruk, hanya karena dilihat dari luarnya tidak ada yang bisa mencerminkan dia baik. Padahal cover kadang memang menipu, justru hatinyalah yang tulus dan sangat baik. Bijaklah Mengendalikan Hati dan Pikiran Ketika Bertemu Dengan Orang Baru Ada beberapa hal yang harus kamu kenali dari dirinya, yaitu tentang sikap dan perilakunya, karena yang namanya kebiasaan akan muncul dengan sendirinya walau ia sudah bersusah payah menyembunyikannya. Jadi, bijaklah kita mengendalikan hati dan pikiran saat bertemu dengan orang baru, apalagi jika dia yang mendekat ingin berteman dengan kita, jangan menolak hanya karena penampilannya buruk dan jangan terlalu percaya karena penampilannya sangat baik.
๏ปฟMencampuri urusan dan menghakimi orang lain sepertinya sudah menjadi budaya banyak masyarakat kita. Orang-orang dengan mudahnya menilai seseorang hanya dari desas desus tanpa benar-benar mengenali yang kali, pada akhirnya perbuatan ini justru membuat kita menyesal atau bahkan merugikan diri sendiri. Karenanya, perbuatan tidak terpuji ini harus dibuang membantu kamu menghindari kebiasaan suka menilai orang lain, berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kamu ingat sebelum menilai orang Pahami dulu kisah merekailustrasi dua orang sedang berbicara MorilloSetiap orang membawa cerita dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Jadi, sebelum menghakimi seseorang, kamu perlu mengenal orang tersebut terlebih dahulu. Setelah berkenalan dengannya, kamu akan tahu mengapa mereka memiliki kepribadian demikian atau berperilaku seperti kali, orang-orang membutuhkan lebih banyak cinta dan dirangkul daripada dihakimi dalam masyarakat. Jadi, saat kamu melihat seseorang yang bertingkah dengan cara tertentu, jangan lakukan penilaian dengan Ketahui fakta sebanyak mungkinilustrasi beberapa orang sedang berbicara Mathieu-Saint-LaurentKamu hanya bisa membuat penilaian yang tepat dengan mencari fakta yang sebenarnya. Jadi, berusahalah untuk tidak memberikan respons apa pun sampai kamu menemukan benar-benar mengetahui apa yang terjadi dan latar belakang di balik hal tersebut, baru kamu bisa memberikan penilaian yang objektif. Ingatlah, menilai seseorang tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu hanya akan membuat kamu menyesal nantinya. Baca Juga 5 Hal yang Terjadi jika Kamu Menilai Orang Lain dari Luarnya Saja 3. Ingatlah bahwa kita belum tentu lebih baik dari orang itu ilustrasi perempuan sedang bercermin RosaSangat mudah menghakimi dan mencari kekurangan orang lain. Kita sering lupa bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan luput dari sampai, kamu sibuk mencari-cari kesalahan orang lain hingga lupa mengintrospeksi diri sendiri. Lagi pula, belum tentu kita ini lebih baik daripada orang yang kita bicarakan. Intinya, jangan sibuk menyalahkan orang lain jika diri kita pun tidak luput dari Posisikan dirimu pada tempat orang lainilustrasi dua orang sedang berdiskusi KumtanomCara terbaik untuk menumbuhkan empati dan melatih diri agar tidak gampang menghakimi adalah menempatkan diri pada posisi orang tersebut. Jadi, sebelum menilai orang lain, bayangkan dirimu ada pada posisi orang bagaimana jika hal yang sama terjadi padamu, apa yang akan kamu lakukan? Juga, bagaimana jika kamu dihakimi oleh orang-orang yang tidak mengenalmu? Belum tentu kamu bisa melakukan sesuatu yang lebih baik jika dihadapkan pada kondisi orang Tanyakan pada diri sendiri mengapa kamu perlu menghakimiilustrasi perempuan sedang bercermin OboleninovHal yang harus kamu pertimbangkan sebelum menilai orang lain adalah mencari tahu alasan mengapa kamu merasa perlu menilai orang yang bersangkutan dan menempatkannya di kelas tertentu? Apakah dampaknya bagi dirimu?Mungkin kamu merasa berhak melakukannya dan ingin melakukannya. Namun, jika ini tidak memberikan kamu keuntungan, jauh lebih baik jika kamu tidak ikut campur dan fokus mengurusi masalahmu sendiri. Lagi pula, tentunya kamu juga tidak ingin jika orang lain turut mencampuri saatnya budaya menilai atau menghakimi ini kita akhiri, salah satunya adalah mulai dari diri sendiri. Melalui pengingat ini, harapannya kita semua bisa lebih bijaksana dalam bersikap. Baca Juga Tak Asal Bicara, Yuk Cek 5 Hal Ini Sebelum Menilai Buruk Orang Lain IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Catatan Tulisan ini akan sangat panjang, tapi saya enggan memotongnya karena akan mengurangi esensinya. Jadi silakan tutup saja kalau ragu membaca tulisan panjang nan berliku, atau siapkan bantal supaya bisa tertidur nyenyak sehabis membaca tulisan ini......Hahahaha!*** Kalimat donโt judge the book by its cover sudah sangat sering kita dengar. Pengajaran seupaya kita tidak menilai orang dari tampak luarnya saja sudah begitu sering kita terima, dan selalu diulang-ulang sepanjang masa. Nasehat yang mengajak kita supaya jangan melihat dari bungkusnya saja melainkan isinya. Pertanyaan sederhananya adalah apakah kita lalu kemudian mudah untuk mempratekkannya? Belum tentu. Sangat sering, dalam hal apapun, kita justru langsung cepat-cepat menilai seseorangdari apa yang nampak oleh mata kita. Seketika secepat kita langsung bergunjing dan menilai seseorang begitu melihat tampilan luarnya seperti apa. Kadang kita menilai orang hanya dari tampilan luarnya saja, bukan dari perbuatannya, atau apa yang ada dalam hati orang tersebut. Melihat orang berpakaian rombeng, kita cap dia itu miskin dan pengemis, peminta-minta. Melihat orang pakai baju bagus dan mentereng, kita cap dia itu kaya dan sombong, sok banyak duit. Lalu ada orang bicara keras dan kasar, kita serta merta cap dia itu tidak berakhlak dan orangnya tidak baik. Ketika ada kawan pendiam dan tak banyak bersuara, kita cap dia bodoh dan dungu, atau sok alim?Saya punya beberapa pengalaman yang sangat berarti, yang begitu dalam mengajarkan saya untuk tidak boleh menilai orang dan menjustifikasi orang tersebut secepat membalikkan telapak tangan. Mengajarkan saya untuk tidak menilai orang lain hanya dari apa yang kita lihat semata. Dalamnya laut bisa diukur, namun isi hati orang siapa yang tau? Kan begitu. Jujur saja, saya beberapa kali gagal mempratikkan hal itu. Terkadang kita terlalu cepat mengambil kesimpulan yang belum tentu benar Cousins, seorang wartawan politik, penulis, professor dan juga sebagai pengacara perdamaian dunia pernah suatu kali mengatakan begini, โMaut bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Kehilangan terbesar adalah apa yang mati dalam sanubari sementara kita masih hidup...โBagi saya, kata-kata itu teramat benar. Salah satu kematian paling mengerikan adalah bila nurani kita sudah mati, sehingga kita menjadi amat gampang memvonis atau menilai orang lain tanpa dasar yang jelas serta akurat lalu kemudian membuly dan memfitnah orang tersebut. Dugaan yang bisa jadi keliru itu lantas kemudian menjadikan kita cakap ber-negative thinking terhadap orang Sebagai Guru Terbaik Lebih dari sepuluh tahun saya bekerja di negeri Paman Sam. Negeri yang kata orang berlimpah susu dan madu. Tentu saja saya amat mensyukuri apa yang saya alami dan jalani di negeri orang itu. Sebab ada begitu banyak hal positif yang saya walaupun saya harus berlelah-lelah, meskipun saya harus menjalani semuanya sendirian, saya tetap mensyukurinya. Karena apa? Karena ternyata kemandirian itu akhirnya tertanam indah dalam jiwa dan diri saya. Punya sikap tahan bantingโ, kuat, serta pantang menyerah. Bagaikan seorang pernah punya pengalaman sangat berat ketika baru pertama kali menjajal New Jersey. Sekitar enam bulan pertama di Amerika memang saya langsung tinggal di Michigan, salah satu negara bagian di Amerika yang masih sangat kurang orang Indonesianya. Di state ini saya tinggal lumayan lama, lebih setengah setahun. Setelah puasโ menikmati kehidupan penuh makna di Michigan, saya akhirnya mesti pindah ke New Jersey NJ. Sebelum berangkat ke NJ kawan-kawan saya di Michigan mengatakan dengan tatapan meyakinkan selamat berjuangโ. Saya tanya kenapa? Mereka bilang selamat berjuangโ oleh karena menurut mereka kehidupan di NJ akan sangat berbeda dibanding di Michigan. Jauh beda. 1 2 3 4 5 Lihat Humaniora Selengkapnya
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sering kita mengalami perlakuan, kita dianggap tidak penting oleh sesama, bahkan kita menganggap seorang tidak penting, berdasarkan penilaian luarnya saja. Kita terkadang hanya ingin mendekati seorang yang menguntungkan diri kita, baik dari segi kedudukannya, dari segi tampilan harta yang ia tampilkan, dari ketampanan dan kecantikannya, dan lainnya yang bersifat itu bukan makhluk yang Maha Mengetahui, wajar saja kita abai dengan seorang yang padahal melimpah segala sumber dayanya karena ia tercover dengan 'sesuatu' yang tidak menghadirkan impresi atau yang membuat bangga dan senang pada diri daya yang bisa berupa ilmu pengetahuan yang dimiliki seorang yang tercover itu, bisa tertutupi karena kesederhanaan hidup yang ia tonjolkan. Sebagai contoh Kalau manusia bersikap tidak mau tahu akan kenikmatan buah durian bagi para penggemarnya. Akan menganggap buah durian itu suatu hal yang mengerikan dan menyakitkan, karena tampak visual luarnya saja sudah begitu. Tapi kalau rasa ingin tahu itu hadir, kita cari tahu apa isi dibalik "kengerian" buah durian. Dan bagi yang memiliki selera yang pas dengan durian, ia malah jadi tahu bahwa buah durian yang ia anggap selama ini mengerikan ini, ternyata isinya seperti manusia. Kalau kita belum menelusuri "isi" manusia dan hanya menilai "cangkang" nya saja. Kita tidak akan menemukan arti filosofis keberhargaan diri manusia perjalanan panjang nan perih untuk menguasai hal ini. Dimana kita merasakan kecewa karena dianggap sebagai seorang yang tak penting, dan merasakan penyesalan karena telah menganggap seorang itu tidak penting. Isi seseorang tersebut bisa berupa Karakter yang menjiwai dan juga Ilmu pengetahuan yang luas, dan hal-hal lainnya yang bersifat Ruhani. Jangan mau tertipu oleh tampilan visual jasmaninya saja, siapa tahu seorang yang kita anggap tak penting itu malah menyelamatkan hidup kita, melalui doa-doa dan pertolongan tak disangka-sangka yang kita tidak prasangka itu menyesatkan. Jadilah seorang yang kritis, dengan menggali kebenaran karena ketidak tahuan 22 April 2022. Video Pilihan
Tidak sedikit kita temui seorang yang sangat baik dihadapan kita, namun dibelakang kita dia membicarakan kita habis-habisan. Kecewa? itu pasti, tapi mau bagaimana lagi tidak ada yang bisa menebak bagaimana hati seseorang. Lantas memilih teman jangan hanya melihat covernya saja, kenali betul bagaimana sikap perilakunya, karena dengan demikian kamu akan bisa berhati-hati dalam mempercayainya. Kadang kala yang dilihatnya baik dari luar itu tidak setulus hatinya. Jangan Hanya Melihat Luarnya Saja, Tapi Kenalilah Hatinya Jaga hatimu dari kekecawaan, jangan sampai kamu percaya kepada seseorang hanya karena kamu melihat keadaan luarnya baik. Sebab tidak sedikit orang yang luarnya baik, tapi hatinya sangat buruk, ia memiliki sifat hasad dan dengki. Jadi kenalilah hatinya saat kamu berteman dengan seseorang, atau hendak memulai pertemenan, agar nanti kamu tidak merasa kecewa dan tersakiti karena ulahnya yang tidak kita duga sebelumnya. Teman Adalah Cerminan Diri Kita, Maka pastikan Kita Tidak Pernah Sembarangan Berteman Apakah kamu tahu, teman itu adalah cerminan diri kita, apabila teman kita memiliki kebiasaan baik maka secara tidak langsung kita pun akan menjadi lebih baik karena kebiasaan-kebiasaannya. Begitu juga sebaliknya, jika teman kita buruk, sebaik apapun kita tentu pada akhirnya akan terkontaminasi akan menjadi sepertinya, meski tidak secara langsung tapi secara perlahan kebiasaan buruknya akan berdampak kepada kita. Penting Kita Mengenali Karakter Seseorang yang Akan Kita Ajak Berteman, Jangan Sampai Kita Salah Melangkah Karena Salah Berteman Untuk itu, penting sekali kita tahu bagaiaman karakter seseorang yang akan kita ajak berteman, bukan untuk pilih-pilih teman, tapi alangkah lebih baiknya kita berhati-hati, sebab teman banyak sekali pengaruhnya kepada kehidupan kita. Bisa jadi jika kita salah dalam memulai pertemanan, kita akan salah melangkah menuju jalan yang hanya akan merugikan kita dihadapan Allah. Tapi Jangan Sering Berburuk Sangka Pula Kepada Orang Lain, Jangan Apa-apa Kita Anggap Buruk Sebab Tidak Sama Dengan Pikiran Kita Akan tetapi jangan sampai kita berprasangka buruk pula kepada orang lain yang ingin berteman, jangan sampai hati dan pikiran kita buruk hanya karena keadaan luar dia yang tidak sesuai dengan persepsi kita. Karena tidak sedikit dari kita yang lumayan egois memprediksikan orang lain buruk, hanya karena dilihat dari luarnya tidak ada yang bisa mencerminkan dia baik. Padahal cover kadang memang menipu, justru hatinyalah yang tulus dan sangat baik. Bijaklah Mengendalikan Hati dan Pikiran, Itulah yang Seharusnya Kita Lakukan Apabila Bertemu Dengan Orang Baru Intinya bijaklah kita mengendalikan hati dan pikiran saat bertemu dengan orang baru, lebih-lebih dia yang mendekat ingin berteman dengan kita, jangan menolak hanya karena penampilannya buruk, dan jangan terlalu percaya karena penampilannya sangat baik. Ada beberapa hal yang harus kamu kenali dari dirinya, yaitu tentang sikap dan perilakunya, karena yang namanya tabiโat akan muncul dengan sendirinya walau ia sudah bersusah payah menyembunyikannya.
jangan melihat orang dari luarnya saja